Sekilas
tentang Propolis
Propolis (bee
glue) adalah istilah umum untuk resin yang dikumpulkan oleh lebah madu
(Apis mellifera) dari berbagai jenis tanaman. Bagian tanaman yang diambil
resinnya adalah tunas, daun, kulit kayu, dan eksudat (getah). Fungsi propolis
bagi lebah adalah untuk menutup lubang sarangnya, memperhalus permukaan dinding
batas antar ruang sarangnya dan melindungi lubang masuk pada sarang dari
pemangsa. Propolis telah diaplikasikan secara luas pada industri makanan
(minuman, makanan kesehatan, dan suplemen), kosmetikologi, dan produk
alternatif (pasta gigi, sabun, sirup, dan permen).
Berdasarkan hasil penelitian,
ternyata propolis sangat kaya akan bahan-bahan biokimia dan lebih dari
300 senyawa telah berhasil diindentifikasi yang antara lain merupakan
polifenol, flavonoid, asam fenolik dan esternya, aldehid fenolik dan ketones
fenolik terpene, sterol, vitamin, asam amino, dan senyawa lainnya. Flavonoid
merupakan senyawa dalam propolis yang paling sering dikaji oleh peneliti.
Flavonoid dan berbagai senyawa
fenolik dalam propolis merupakan senyawa yang paling penting secara
farmakologi. Senyawa tersebut telah terbukti mampu menangkal radikal bebas,
melindungi lipid dan senyawa lain (vitamin C) yang mudah
teroksidasi oksidasi. Propolis telah digunakan secara luas untuk aplikasi
berbagai macam produk makanan dan minuman, untuk meningkatkan kualitas dari
aspek kesehatan dan, untuk mencegah penyakit seperti inflamasi, serangan
jantung, diabetes dan kanker. Beberapa kajian di Eropa dan Amerika Selatan
menunjukkan bahwa flavonoid yang diekstrak dari propolis memiliki kemampuan
sebagai antioksidan yang sangat baik. Antioksidan tersebut dapat melindungi
serum lipoprotein dari oksidasi. Khasiat antioksidan tersebut dihasilkan dari
aktivitas anti radikal (radikal alkoksi dan menekan perluasannya, superoxide)
dan menghambat efek ion tembaga (cuprous ion) yang merupakan inisiator
oksidasi pada lipoprotein berdensitas rendah. Pada makalah ini kita akan
membahas dua jurnal yang bertema propolis. Jurnal pertama membahas karakter
propolis karena pengaruh lokasi dan jurnal kedua membahas pengaruh musim
terhadap sifat propolis.
Jurnal 1: Chemical
Characterization of Iraqi Propolis Samples and Assessing their Antioxidant
Potentials (Ghasan, et. al., 2011)
Ghasan et. al. (2011) melakukan
karakterisasi kimia dan mengkaji potensi antioksidan pada propolis dari lebah
madu Iraqi. Propolis Iraqi kasar dikumpulkan dari daerah yang berbeda geografis
pada tahun 2007 – 2008. Pengumpulan dilakukan dengan mengambil sarang lebah.
Lokasi pengambilan sarang lebah adalah di Baghdad (dua sampel: B1 dan B2),
Dahuk (D), Mosul (M) dan Salah ad-Din (S). Selanjutnya propolis diekstrak
dengan metode Nikolov. Analisis kualitatif dan semi kuantitatif dilakukan
dengan high performance liquid chromatography – mass spectrometry
(HPLC-MS). Senyawa fenolik total dalam propolis dilakukan secara
spektrofotometri. Kemampuan ekstrak propolis dalam menangkal radikal bebas
diuji dengan DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl).
Hasil
dan Pembahasan tentang Propolis
Sampel propolis yang diambil dari
daerah yang berbeda secara geografis memiliki perbedaan sifat fisik.
Sampel B1, B2 dan S berwarna coklat gelap (dark brown), sedangkan sampel
D dan M berwarna hijau gelap (dark green). Sampel B1, B2 dan D
bertekstur gummy dan waxy, sampel M bertekstur powder dan sampel
S bertekstur waxy. Terjadinya keragaman sifat tersebut kemungkinan merupakan
akibat perbedaan perubahan musim, flora lokal, phenology tanaman, dan vegetasi
tempat tumbuh tanaman.
Hasil uji HPLC–ESI/MS seperti yang
diperlihatkan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa bahwa 38 senyawa berbeda berhasil
diidentifikasi. Dari 38 senyawa tersebut 33 diantaranya adalah polifenol dan 4
senyawa diduga teridentifikasi sebagai clerodane diterpenoid, sedangkan 1
senyawa tidak dikenali. Jumlah total peak area (TPA) dari total ion current
(TIC) berbeda antara setiap sampel. Sampel D memiliki TPA yang paling tinggi
yang diikuti oleh dampel M, B2, S dan B1.
Extrak propolis menunjukkan profil
TIC yang sama untuk sampel B2, D, M dan S (Gambar 1). Penampakan profil yang
mirip tersebut diakibatkan oleh substansi yang sama pada setiap ekstrak
propolis yang dianalisis. Pada spectrum uji penuh (m/z = 145–800)
mengindikasikan bahwa senyawa yang terdeteksi tersebut adalah sejumlah besar
senyawa fenolik. Berbeda dengan sampel B1 yang menunjukkan bahwa samepl
tersebut sedikit mengandung senyawa fenolik. Hal tersebut sejalan dengan hasil
uji kelarutan sampel yang akan dijelaskan berikut.
Esktrak propolis juga memiliki
perbedaan kelarutan. Samples B2, D, M dan S larut sempurna di dalam larutan
dimethylsulfoxide:water (2:1), sedangkan sampel B1 larut di dalam air.
Metode yang digunakan untuk
mendeteksi senyawa polifenol dalam propolis adalah HPLC yang dilengkapi dengan electrospray
ionization. Electrospray ionization memungkinkan berbagai jenis
molekul yang mempunyai panas yang tidak stabil (thermal instability), derajat
kepolaran yang tinggi dan bobot molekul yang tinggi.
Secara umum asam fenolik dan
esternya merupakan komponen yang dominan dalam ekstrak propolis, yang diikuti
oleh flavone dan flavonol, dan kemudian adalah flavanone dan dihydroflavonol.
Hasil lengkap kandungan ekstrak propolis yang telah diklasifikasikan dapat
dilihat pada Tabel 2, 3 dan 4.
Analisis semi kuantitatif untuk
substansi (senyawa) yang teridentifikasi tersebut didasarkan asumsi bahwa
senyawa yang mirip secara kimiawi akan mengasilkan respon spektofotometrik masa
yang sama, meskipun tidak selalu benar. Irak termasuk ke dalam negara berhawa
sedang (temperate zone). Tanaman yang tumbuh dominan di Iraq adalah
tanaman poplar (Populus nigra) dimana resin yang dihasilkan tanaman tersebut
kaya kompion fenolik., termasuk flavonoid, asam aromatic dan esternya. Hal
tersebut berbeda dengan daerah tropis yang berbeda vegetasinya seperti Clusia
minor, Clusia major (Guttiferae), Araucaria heterophylla (Araucariacae) dan
Baccharis spp. Tanaman tersebut menghasilkan resin yang kaya akan
polyprenylated benzophenones dan berbagai jenis diterpene, seperti clerodane
dan beberapa diterpenoid tipe-labdane, yang tidak ditemukan pada tanaman di
daerah berhawa sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sampel D, M dan
S ditemukan senyawa clerodane diterpenoid
Hasil pengujian aktivitas propolis
dalam menangkal radikal bebas dengan uji DPPH menunjukkan bahwa sampel B2, D
dan M merupakan sampel propolis yang paling aktif (Tabel 5). Kemampuan
menangkal radikal bebas suatu propolis berkorelasi dengan adanya senyawa fenolik,
khususnya flavonoid, yang dilaporkan menjadi senyawa antioksidan yang paling
banyak dan paling efektif.
Jurnal 2: Seasonal effect on
chemical composition and biological activities of Sonoran propolis (Valencia
et.al., 2011)
Sejalan dengan Ghasan et al,
Valencia et al juga melakukan penelitian tentang propolis Sonoran di daerah
mexico terutama pengaruh dari musim terhadap komposisi kimia dan aktivitas
biologis propolis. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sifat antimicrobial
dan immunoregulatory tidak dipengaruhi oleh perubahan musim. Selain itu
diketahui juga bahwa perubahan musim tidak berpengaruh terhadap perubahan
komposisi kimia propolis, tetapi berpengaruh profil kimianya secara
kuantitatif.
Bahan propolis kasar dikumpulkan
pada setiap musim selama setahun, musim semi atau spring (21 Maret 2008 21
hingga Juni 2008), musim panas atau summer (22 Juni 2008 hingga 22 September
2008), musim gugur atau fall (23 September 2008 hingga 21 Desember 2008), dan
musim dingin atau winter (22 Desember 2008 hingga 20 Maret 2009). Sarang lebah
diambil dari daerah yang dikenal dengan nama ‘‘El Coyote’’, yang terletak di
Ures, Sonora, Mexico. Sampel propolis diambil dari 12 sarang lebah di setiap
musim. Penelitian sebelumnya mendapatkan hasil bahwa propolis yang berasal dari
daerah tersebut memiliki aktivitas antiproliferative (menghambat pertumbuhan
sel) yang kuat. Bahan propolis kasar tersebut selanjutnya diekstrak dengan
menggunakan methanol dan dianalisis: HPLC, Cell lines, Antiproliferative
assays, Free-radical scavenging activity (DPPH assay), Total phenolic content,
Flavone and flavonol content, Flavanone and dihydroflavonol content,
Hasil dan pembahasan
Perubahan musim mengakibatkan
perbedaan jumlah propolis yang dapat dipanen. Musim panas menghasilkan propolis
dengan jumlah terbanyak dan jumlah propolis paling sedikit dihasilkan pada
musim dingin [summer (245 g) > fall (60 g) > spring (45 g) > winter (8
g)]. Hasil pengamatan fisik secara organoleptik diperlihatkan pada Tabel 6.
Secara umum, propolis di daerah Sonora berwarna coklat kehijauan.
Berdasarkan hasil uji HPLC diketahui
bahwa senyawa yang dominan pada propolis Sonora adalah pinocembrin, pinobanksin
3-acetate, dan chrysin. Hasil pengujian secara lengkap diperlihatkan pada Tabel
7, sedangkan profil peak HPLC diperlihatkan pada Gambar 3. Musim tidak
berpengaruh nyata terhadap senyawa utama pada propolis.
Semua sampel propolis memiliki sifat
menghambat pertumbuhan sel kanker (duji dengan cancer cell line M12.C3.F6,
sampel propolis musim semi memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan sel kanker
tertinggi. Urutan hasil uji antiproliferative pada sel M12.C3.F6 adalah: musim
semi (IC50 11.6 ± 4.6 lg/ml) > musim dingin (IC50 26.6
± 11.5lg/ml) > musim panas (IC50 49.7 ± 1.4 lg/ml) > musim
gugur (IC50 54.5 ± 2.5 lg/ml). Semua sampel menunjukkan
antiproliferative yang rendah untuk menghambat sel tikus normal (murine) L-929
(IC50 >50 lg/ml).
Walaupun berdasarkan hasil uji HPLC
bahwa propolis tidak berbeda nyata dalam hal senyawa utama, tetapi berdasarkan
uji antiproliferative berbeda. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh adanya
variasi sejumlah kecil senyawa yang memberikan efek aktivitas biologis
propolis. Penjelasan lain yang masuk akal adalah adanya senyawa yang tidak
teridentifikasi yang memiliki efek antiproliferative dalam sampel uji.
Total flavonoid dan senyawa fenolik
pada musim panas dan musim gugur lebih tinggi daripada pada musim dingin dan
msuim semi. Jumlah produksi propolis meningkat seiring dengan menurunnya
produksi madu pada akhir musim gugur. Selain itu, jumlah produksi propolis juga
diperngaruhi oleh sumber resin di sekitar sarang lebah.
Senyawa fenolik berkorelasi nyata
dengan sifat antioksidan. Namun demikian, senyawa fenolik tidak berkorelasi
nyata dengan sifat antiproliferative.
Pengetahuan tentang propolis berguna
untuk karakterisasi dan standarisasi produk natural yang diaplikasikan untuk
makanan dan farmasi.
KESIMPULAN
Dari kedua jurnal di atas dapat
disimpulkan bahwa ekstrak propolis secara umum memiliki kandungan utama yang
sama yaitu fenolik. Sifat fisik propolis dipengaruhi oleh lokasi. Komposisi
yang dikandung setiap propolis akan berbeda dengan berubahnya musim.
Kemampuan propolis dalam menangkal
radikal bebas atau antiproliferative tidak dipengaruhi oleh kandungan fenolik.
Sifat antioksidan sangat dipengaruhi oleh senyawa fenolik dalam ekstrak
propolis.
DAFTAR
PUSTAKA
Ghassan M. Sulaiman, Khulood W. Al
Sammarrae, Ali H. Ad’hiah, Massimo Zucchetti, Roberta Frapolli, Ezia Bello,
Eugenio Erba, Maurizio D’Incalci, Renzo Bagnati. 2011. Chemical
Characterization of Iraqi Propolis Samples and Assessing their Antioxidant
Potentials. Food and Chemical Toxicology 49 (2011) 2415–2421
Valencia Dora, Efrain Alday, Ramon
Robles-Zepeda, Adriana Garibay-Escobar, Juan C. Galvez-Ruiz, Magali
Salas-Reyes, Manuel Jiménez-Estrada, Enrique Velazquez-Contreras, Javier
Hernandez, Carlos Velazquez. 2011. Seasonal effect on chemical composition
and biological activities of Sonoran propolis. Food Chemistry 131 (2012)
645–651
Tidak ada komentar:
Posting Komentar